Mata Rajawali – Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) Perwakilan Provinsi Papua Selatan memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan malaria (ATM) melalui Workshop Petunjuk Teknis Integrasi ATM dan Kebijakan Nasional Tingkat Provinsi yang digelar di Hotel Halogen Merauke, Selasa (14/7/2026). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut penugasan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) guna mempercepat pencapaian target eliminasi ATM pada 2030.
Workshop tersebut dihadiri perwakilan pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta pemangku kepentingan sektor kesehatan sebagai forum untuk menyelaraskan kebijakan, memperkuat koordinasi, dan mengevaluasi pelaksanaan program pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan malaria di Papua Selatan.
Mewakili Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Nelson Sasarari mengatakan kondisi penularan HIV/AIDS, TBC, dan malaria di Papua Selatan masih membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, upaya pencegahan dan pengendalian harus dilakukan secara sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan agar target eliminasi pada 2030 dapat tercapai.
“Workshop ini menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai program yang telah dilaksanakan sekaligus memperkuat sinergi seluruh pihak dalam menekan angka kasus HIV/AIDS, TBC, dan malaria,” ujarnya.
Nelson mengungkapkan, angka kasus AIDS, TBC, dan malaria di Papua Selatan masih tergolong tinggi. Apabila kondisi tersebut tidak mengalami penurunan pada tahun mendatang, maka diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi yang telah dijalankan, termasuk peningkatan kesadaran masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Ia berharap perubahan perilaku masyarakat dapat menjadi salah satu kunci dalam menekan penyebaran ketiga penyakit tersebut sehingga target eliminasi ATM pada 2030 dapat diwujudkan.
Selain itu, Nelson menegaskan bahwa setiap program kesehatan yang menyasar Orang Asli Papua harus menjadi prioritas pemerintah karena berkaitan langsung dengan upaya menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam workshop, HIV/AIDS, TBC, dan malaria hingga kini masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat berskala global. Ketiga penyakit tersebut tidak hanya menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar. Secara global setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 1,3 juta kasus infeksi HIV baru, 10,7 juta kasus TBC, serta 282 juta kasus malaria.
Sementara itu, di Provinsi Papua Selatan hingga tahun 2026 diperkirakan terdapat 4.606 kasus TBC. Untuk HIV/AIDS tercatat sebanyak 392 kasus HIV dan 220 kasus AIDS secara kumulatif. Adapun jumlah kasus positif malaria mencapai 180.582 kasus.
Seluruh kabupaten di Papua Selatan hingga kini juga masih berada dalam tahap menuju eliminasi malaria dan belum ada satu pun daerah yang berhasil mencapai status eliminasi. Kondisi tersebut menjadi dasar penting bagi ADINKES Papua Selatan untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat penanggulangan HIV/AIDS, TBC, dan malaria di wilayah tersebut. (DWL)



































