Dosen UNMUS Terapkan Teknologi Sangrai untuk Tingkatkan Produksi Minyak Kemiri di Kampung Perbatasan Yanggandur

Sinergisitas Antara Perguruan Tinggi dan UMKM Sederhana Yanggandur

Mata Rajawali, 24 September 2025 — Kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA Tahun 2025, yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), kembali bergulir dan menyasar berbagai elemen perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu tim pengabdian yang terlibat berasal dari Universitas Musamus (UNMUS), yang dipimpin oleh Farid Sariman, S.T., M.T, dosen Teknik Mesin.

Program ini bertujuan untuk mentransformasi usaha kecil di daerah perbatasan melalui penerapan teknologi sederhana namun tepat guna, dengan fokus pada pengolahan buah kemiri menjadi minyak kemiri. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kampung Yanggandur, yang terletak di wilayah perbatasan Republik Indonesia – Papua Nugini (RI–PNG).

Bacaan Lainnya

Tim yang ikut pengabdian ini terdiri dari lintas disiplin keilmuan, yakni;
· Farid Sariman, S.T., M.T. (Ketua tim, Teknik Mesin)
· Ir. Marsujitullah, S.Kom., M.T. (Teknik Informatika)
· Simon Siamsa, S.E., M.M. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

Mereka bekerja sama dengan kelompok UMKM lokal “Sederhana Yanggandur”, dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk minyak kemiri.

Kegiatan tersebut berlangsung sepanjang tahun 2025 dan berlokasi di Kampung Yanggandur, 30 Agustus 2025 Merauke – Papua Selatan, sebagai salah satu kampung perbatasan strategis RI–PNG yang menjadi fokus pemberdayaan masyarakat.

Menurut Farid Sariman, buah kemiri yang begitu melimpah di wilayah tersebut memiliki potensi ekonomi yang tinggi, namun belum dapat diolah secara optimal. Proses pengolahan masih dilakukan secara konvensional dan terbatas, yang berakibat pada rendahnya kualitas dan kuantitas produk.

“Dengan penerapan mesin sangrai sederhana, kami ingin membantu masyarakat meningkatkan efisiensi pengolahan kemiri menjadi minyak berkualitas. Ini langkah awal transformasi usaha kecil di perbatasan,” ujar Farid Sariman.

Tim dosen yang memberikan pelatihan langsung penggunaan alat sangrai kemiri, sekaligus menjelaskan manfaat teknologi dan internet dalam mendukung pemasaran dan distribusi produk UMKM. Pendekatan ini dilakukan secara partisipatif, dan melibatkan kelompok UMKM agar mampu mandiri secara teknologi dan ekonomi.

Yuli, salah satu anggota UMKM Sederhana Yanggandur, menyatakan apresiasinya terhadap program ini. Ia mengatakan bahwa selama ini proses sangrai masih menggunakan metode bakar manual yang tidak efisien.

“Dengan alat sangrai dari tim dosen UNMUS, hasil minyak kemiri jauh lebih banyak dan berkualitas. Kami berharap teknologi seperti ini bisa sampai ke kampung-kampung lainnya di wilayah perbatasan,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi, teknologi, dan masyarakat mampu mendorong perubahan signifikan, terutama di wilayah-wilayah tertinggal dan perbatasan. Program PKM BIMA Kemdiktisaintek tahun 2025 diharapkan dapat terus menjangkau lebih banyak komunitas lokal dan membuka akses terhadap inovasi yang memberdayakan. (DWL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *