Mata Rajawali – Menjelang pelaksanaan festival musik yang dinantikan masyarakat, pihak penyelenggara secara resmi menggelar technical meeting (TM) bersama para peserta. Pertemuan ini bertujuan untuk menyepakati seluruh regulasi teknis dan memastikan festival berjalan dengan tertib, aman, dan spektakuler saat hari pelaksanaan di Lapangan/Taman Mandala.
Technical meeting yang berlangsung di hotel Mega Ria, 14/05/2026 panitia penyelenggara menjelaskan bahwa technical meeting ini menjadi momentum krusial untuk menyamakan persepsi antara pelaksana dan peserta terkait aturan main festival, mulai dari aspek teknis panggung hingga etika berpenampilan.
Pihak penyelenggara menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas dan kualitas festival. Salah satu poin utama yang disepakati adalah larangan keras bagi peserta untuk mengonsumsi minuman keras (miras) maupun narkoba, terutama saat hendak tampil di atas panggung. Selain itu, musisi yang berpartisipasi diwajibkan mengenakan pakaian yang sopan dengan tetap menjaga etika kesopanan.
“Burhanuddin Zen menyampaikan, malaupun ini penampilan musisi, namun etika harus tetap dijaga. Kami juga melarang keras adanya yel-yel yang berbau SARA atau politik. Kami mengarahkan agar yel-yel yang dibawakan bermuatan positif untuk daerah, seperti ‘Papua Selatan Maju!’ atau ‘Hidup Papua Selatan!’,” ujar ketua Panita.
Selain etika, kedisiplinan waktu juga menjadi sorotan utama. Penarikan undian nomor urut tampil telah dirampungkan dalam pertemuan ini agar seluruh peserta dapat bersiap maksimal pada hari H.
Meskipun panitia telah menyediakan fasilitas alat musik lengkap (gitar, bass, melodi, dan keyboard), peserta tetap diperbolehkan membawa instrumen pribadi. Untuk memastikan performa audio yang maksimal, panitia menjadwalkan agenda check sound wajib di Lapangan Mandala pada tanggal 17, tepat satu hari sebelum festival resmi dimulai pada tanggal 18.
Dari total 23 peserta yang terdaftar secara resmi, dinamika wilayah dan kendala transportasi di tiga kabupaten sempat membuat beberapa peserta mengurungkan niatnya. Pada pelaksanaan technical meeting, tercatat sebanyak 17 peserta hadir, 2 peserta mengundurkan diri, dan 5 peserta lainnya absen.
Panitia menegaskan bahwa 5 peserta yang belum sempat hadir tetap diizinkan untuk tampil, dengan syarat wajib mengikuti prosesi check sound pada tanggal 17 dan wajib mematuhi seluruh keputusan mayoritas yang telah disepakati dalam technical meeting tanpa adanya komplain di kemudian hari.
Festival ini berhasil menarik antusiasme yang tinggi dari berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda. Menariknya, ajang ini tidak hanya diikuti oleh band-band lokal umum, tetapi juga mendapat partisipasi luar biasa dari instansi TNI dan Polri.
Beberapa tim yang dipastikan siap menggebrak panggung antara lain; satu regu perwakilan dari Kormil 11 Angkatan Laut di bawah pimpinan Letnan Tragil, satu grup band dari Kodam 17/Cenderawasih (eks Mandala Trikora) yang dipimpin oleh Sersan Aldo, dan grup band dari pihak Polres setempat yang saat ini sedang dalam proses verifikasi akhir oleh panitia.
Kehadiran unsur TNI-Polri ini diharapkan menjadi motivasi besar bagi generasi muda Papua Selatan untuk terus berkarya secara positif dalam industri musik dan seni. Panitia optimistis festival ini akan menjadi hiburan berkualitas tinggi sekaligus wadah pemersatu masyarakat di Papua Selatan. (DWL)



































