Mata Rajawali – Sebanyak 17 grup band dari empat kabupaten di Provinsi Papua Selatan unjuk gigi dalam festival musik yang digelar di Kabupaten Merauke. Ajang ini menjadi momentum kebangkitan bagi para musisi muda di wilayah pinggiran dan daerah yang selama ini dinilai rawan untuk menyalurkan bakat positif mereka.
Festival yang dikaitkan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional ini dihadiri langsung oleh Gubernur Papua Selatan, Dr. Apollo Safanpo, ST., MT, jajaran Forkopimda, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Selatan, serta perwakilan dari Pemkab Merauke selaku tuan rumah pada Senin sore, 18/05/2026 lapangan Mandala.
Ketua panitia penyelenggara dalam sambutannya menyampaikan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi sejak pendaftaran dibuka selama 20 hari. Uniknya, festival ini berhasil menjaring potensi luar biasa dari wilayah-wilayah pinggiran yang kerap dicap sebagai “daerah merah” atau rawan konflik.
“Burhanuddin Zaen, Kami sempat tercengang. Daerah-daerah yang katanya rawan dan zona merah, ternyata menyimpan anak-anak yang mampu memainkan melodi begitu indah. Grup band dari kawasan pinggiran seperti Pintu Air Dalam (grup band Kapinda), Transito, Kampung Baru, Kudamati, Buti, hingga Veteran semuanya muncul dan ikut ambil bagian,” ujar Ketua Panitia.
Peserta festival merupakan representasi dari empat kabupaten di bawah naungan Provinsi Papua Selatan, yakni Merauke, Asmat, Mappi, dan Boven Digoel.
Untuk menonjolkan identitas lokal, panitia memprioritaskan para peserta membawakan lagu pilihan bebas berupa lagu daerah atau karya ciptaan sendiri. Alhasil, panggung festival akan diwarnai oleh keanekaragaman bahasa daerah asli Papua Selatan, mulai dari bahasa Marind (Marind Pantai dan Marind Dek), Muyu, Mandobo, Awyu, Asmat, hingga Yakai.
Kompetisi ini dibagi ke dalam dua sesi penampilan, yakni pada Selasa malam dan Rabu malam. Acara puncak sekaligus pengumuman juara dan penyerahan hadiah akan langsung dirangkaikan pada sesi penutupan Rabu malam besok.
Di akhir sambutan, pihak panitia mengajak seluruh masyarakat dan peserta untuk menjaga kondusivitas selama acara berlangsung. Festival ini ditegaskan sebagai ruang apresiasi, bukan ladang permusuhan.
“Ini adalah ajang kita untuk mencari dan mengembangkan minat serta bakat. Bukan momen yang dijadikan sebagai permusuhan soal kalah atau menang, melainkan ajang prestasi dan adu skill bermusik,” pungkasnya. (DWL)




























