ISKA Resmi Hadir di Papua Selatan, Pengurus Periode 2026–2030 Resmi Dilantik

Mata Rajawali – Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) wilayah Papua Selatan menggelar pelantikan pengurus sekaligus rapat kerja (Raker) periode 2026–2030 di Hotel Halogen, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting karena merupakan pertama kalinya ISKA hadir dan membentuk kepengurusan di wilayah Provinsi Papua Selatan beserta empat kabupatennya.

Ketua panitia kegiatan, Godefridus Samderubun, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi tonggak awal kehadiran organisasi sarjana Katolik di wilayah selatan Papua. “Ini merupakan momentum perdana ISKA menginjakkan kaki di Papua Selatan sekaligus membentuk kepengurusan di empat kabupaten,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Acara tersebut dihadiri ratusan anggota ISKA dari berbagai daerah di Papua Selatan, antara lain DPD ISKA Papua Selatan serta DPC ISKA dari Kabupaten Merauke, Mappi, Boven Digoel, dan Asmat. Selain itu, kegiatan juga dihadiri Ketua Umum ISKA Lucy A. Yusgiantoro, Sekretaris Jenderal ISKA Ch. Arie Sulistiono, jajaran pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) ISKA, perwakilan perguruan tinggi, organisasi Katolik lokal, serta Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo dan memberikan dukungan terhadap penguatan peran kaum intelektual Katolik dalam pembangunan daerah.

Pelantikan pengurus ISKA wilayah Papua Selatan periode 2026–2030 berlangsung khidmat. Prosesi dipimpin perwakilan Dewan Pengurus Pusat ISKA dan disaksikan tokoh agama Katolik setempat. Para pengurus yang dilantik menerima surat keputusan pengangkatan serta penyematan pin ISKA sebagai simbol tanggung jawab organisasi.

Ketua ISKA Papua Selatan terpilih, Albin Joseph Gebze, dalam sambutannya menegaskan komitmen untuk menjadikan ISKA sebagai organisasi yang aktif berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Kita sebagai sarjana Katolik tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan diri secara pribadi, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam mengangkat martabat manusia dan memperkuat keutuhan bangsa melalui pemikiran serta aksi nyata yang berlandaskan etika Katolik,” kata Albin.

Setelah pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan rapat kerja yang mengangkat tema “Transformasi Paradigma Intelektual Katolik: Landasan Etis untuk Martabat Manusia dan Keutuhan Bangsa.”

Ketua Umum ISKA, Lucy A. Yusgiantoro, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa transformasi paradigma intelektual Katolik tidak berarti meninggalkan nilai dasar iman, melainkan menyesuaikannya dengan tantangan zaman modern.

Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi, intelektual Katolik harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial seperti kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan, serta tantangan terhadap martabat manusia.

Sementara itu, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menekankan pentingnya peran kaum intelektual Katolik sebagai agen perubahan dalam kehidupan berbangsa. Ia juga mengingatkan, agar para sarjana Katolik tetap mengedepankan pemikiran kritis berbasis data dan solusi nyata, serta tidak mudah terpengaruh oleh isu yang belum jelas kebenarannya.

Dalam sesi diskusi kelompok, para peserta membahas berbagai isu strategis di Papua Selatan, antara lain akses pendidikan, kesehatan masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi lokal. Sejumlah rancangan program kerja pun disusun, di antaranya pengembangan pembinaan nilai-nilai Katolik bagi generasi muda, program kesehatan berbasis pelayanan masyarakat, serta pelatihan keterampilan ekonomi bagi masyarakat di wilayah terpencil.

Selain itu, peserta rapat juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi keagamaan lain, dan masyarakat sipil guna memperkuat kontribusi ISKA dalam pembangunan daerah.

Sekretaris Jenderal ISKA, Ch. Arie Sulistiono, menyampaikan sejumlah rekomendasi hasil rapat kerja, di antaranya penyusunan rencana kerja berbasis tiga pilar utama, yaitu pengembangan kapasitas anggota, pengabdian masyarakat berbasis etika Katolik, serta penguatan kolaborasi lintas lembaga. Selain itu, ISKA juga akan mendorong penelitian tematik terkait isu-isu strategis di Papua Selatan yang hasilnya dapat menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.

Ketua Bidang Humas, Kebijakan Publik dan Lembaga Penelitian ISKA Papua Selatan, Antonius Bambang, menilai kegiatan pelantikan dan rapat kerja ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan organisasi tersebut di wilayah Papua Selatan.

Ia berharap transformasi paradigma intelektual Katolik yang diusung dalam kegiatan ini dapat mendorong kontribusi nyata ISKA dalam meningkatkan martabat manusia serta memperkuat persatuan bangsa, khususnya di wilayah Papua Selatan.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan sesi foto seluruh peserta sebagai simbol semangat persatuan para sarjana Katolik di wilayah Papua Selatan. (DWL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *